Jumat, 09 November 2012

Tersenyum Dalam Kemarahan

Tersenyum Dalam Kemarahan

Membaca judul tersebut pastinya banyak pertanyaan dalam benak. Mungkinkah ??? bisakah ??? kalo bisa bagaimana caranya ???. tulisan yang akan saya buat ini terinpirasi setelah membaca buku psikologi populer yang berjudul Tenangkan Diri (mengatasi frustasi dan kemarahan) karya Dr Paul Hauck dan setelah melihat seorang teman saya marah-marah di akun pribadinya. Membahas mengenai kemarahan pastilah sudah tidak asing lagi karena setiap manusia di pelosok dunia dan dimanapun dia berada (sedikit lebay hhe) pasti pernah marah. Kemarahan di identikan sebagai emosional yang negatif dan tidak menyenangkan juga dapat menjadi sesuatu yang sangat berbahaya. Dikatakan sangat berbahaya dikarenakan seperti yang kita ketahui dalam berita-berita di TV ada seorang ibu yang tega secara tragis membunuh anaknya sendiri dikarenakan kemarahannya yang tidak tertahankan, sehingga kemarahan tersebut dapat menjadi salah satu penyebab orang masuk penjara. Memang sungguh tragis, masyarakat sekarang pada umumnya kurang mengerti mengenai keadaan psikologis dirinya terutama psikologi kemarahan. Oleh karena itu penting sekali untuk setiap individu mengerti terhadap kemarahan dan berusaha menjadi tidak pemarah.
Menurut Dr. Paul menjadi seorang yang tidak pemarah tidaklah begitu sukar, kalau orang itu terlebih dahulu diberi petunjuk bagaimana mencapai keadaan tenang (unangry state). Sebelum membahas lebih lanjut mengenai petunjuk bagaimana mencapai keadaan tenang (tidak marah), saya akan sedikit bercerita dari fakta empiris yang ada. Sebut saja dia YK, YK adalah seorang ibu yang memiliki tiga orang anak, dia memiliki seorang suami yang suka mabuk. Selama 30 tahun pernikahannya YK selalu saja di hadapkan dengan situasi yang sulit karena kerap sekali dimaki-maki oleh suaminya jika suaminya pulang ke rumah dengan keadaan mabuk, dan selama itu pula YK selalu berbalik marah kepada suaminya. Keluarga YK jadi jatuh miskin karena kekayaan yang mereka miliki dihabiskan oleh suaminya untuk bermabuk-mabukan. Mengenai permasalahan tersebut Dr. Paul hanya menyarankan YK dengan sungguh-sungguh agar YK menerima suaminya sebagai seorang pemabuk dan relaks. YK tidak perlu marah balik ketika suaminya memaki dia, karena suaminya orang yang sakit dan tidak dapat menolong dirinya sendiri. Dengan seperti itu YK akan lebih tenang, akan tetapi bukan berarti YK hanya harus bersikap manis semanis kue tart dan menganggap semua kelakuan suaminya bukan merupakan persoalan baginya. Itu merupakan suatu permasalahan yang harus dipecahkan, akan tetapi YK belum mampu untuk itu karena selama tiga puluh tahun mencoba tidak dapat mengubah kelakuan suaminya.
Mungkin YK tidak jauh berbeda dengan kita yang selalu marah, benci, kecewa ataupun sakit hati bahkan frustasi ketika kenyataan yang di dapati tidak sesuai dengan harapan kita. Ketika perasaan yang selalu di permainkan dalam suatu hubungan kita pasti akan sakit hati dan marah terhadap dirinya, ketika salah satu anggota keluarga kita bikin ulah dan menyebabkan hal negatif dalam keluarga, kita pasti marah dan malah sampai memaki-maki. Hal seperti itu justru malah dapat menyebabkan neurotik (penyakit jiwa). Kenapa tidak kita hadapi dengan senyuman saja, menahan amarah yang dirasakan karena tidak ada orang lain yang dapat membuat kita marah kecuali diri kita sendiri, mengapa harus marah terhadap seseorang yang sebenarnya dia sendiri sedang kalut, maafkan keburukannya dan dengan demikian kita akan memperoleh keuntungan besar yaitu ketenangan. Ketenangan akan membawa kebahagiaan dalam hidup. ^_^
Kalo kita bisa tenang dan sabar dalam menghadapi frustasi tentu kita akan memperoleh ketenangan jiwa yang paling besar. Bersikap marah justru tidak dapat menghilangkan frustasi, malah dapat menimbulkan depresi, dan akibat dari itu semua yaitu harus dibayar dengan hati yang tersakiti. Adapun akibat yang merugikan dari kemarahan antara lain :
1.     Kemarahan hampir selalu memperbesar frustasi
2.    Marah hanya menghalangi anda memecahkan masalah
3.    Akan menyebabkan kesehatan mental yang buruk
4.    Kemarahan dapat membuat kita sakit secara fisik
5.    Kemarahan menyebabkan timbulnya beberapa prilaku manusia yang paling bejat, seperti pembunuhan, dll.

So... tersenyumlah kauand.. dan tenanglah dengan masalah-masalah yang datang menghampiri kita, karena ciri dari manusia hidup itu memiliki masalah, hanya orang matilah yang tidak memiliki masalah yang berkaitan dengan dunianya. Masalah bisa mendewasakan kita ko, jika di ibaratkan hujan itu adalah masalah atau kesulitan dan mentari itu adalah kemudahan, maka kita butuh keduanya untuk melihat indahnya pelangi. ^_^ senyum itu mudah ko,, tapi efeknya indah, seperti dalam sebuah buku dikatakan bahwa kebahagiaan yang cepat sampai pada seseorang yaitu dengan senyuman, jadi mari kita tersenyum kauand karena senyum kalian ditunggu banyak orang.. J

2 komentar:

  1. apakah manusia mempunyai batas kesabaran? bukankah setiap orang mempunyai kpribadian yang berbeda? bukankah sisi psikologis tiap orang berbeda? bagaimana pndapat tie klo meluangkan,mengungkapkan dalam bentuk kmarahan bisa membuat relax dan tersenyum serta berpikir kmbali?? mungkin kemarahan pun menurut diana masih bisa membuat orang menghilangkan depresi, frustasi bahkan dengan kemarahan itupun mungkin bisa berpikir ulang untuk pemecahan masalahnya? :) maaf nanyanya ga nyambung hhehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. manusia tidak memiliki batas-batas tertentu dimana mereka masih belum bisa menahan aksi gilagilaan orang lain. maksudnya selama kita masih belum bisa menghentikan orang berbuat masalah maka selama itu pula kita harus bersabar.
      iya benar setiap individu memiliki kepribadian dan psikologis yang berbeda akan tetapi dalam tujuan untuk mencapai ketenangan dan kebahagiaan dalam hidup mereka pasti menginginkan seperti itu dan kebahagian hidup itu dapat di capai dengan mental yang sehat. karena pemarah adalah salah satu dari terganggunya kesehata mental seseorang dalam aspek perasaan maka bagaimana bisa dengan marah dapat menyelesaikan masalah klo mnrt saya.

      Hapus