Tersenyum Dalam Kemarahan
Membaca
judul tersebut pastinya banyak pertanyaan dalam benak. Mungkinkah ??? bisakah
??? kalo bisa bagaimana caranya ???. tulisan yang akan saya buat ini
terinpirasi setelah membaca buku psikologi populer yang berjudul Tenangkan Diri
(mengatasi frustasi dan kemarahan) karya Dr Paul Hauck dan setelah melihat
seorang teman saya marah-marah di akun pribadinya. Membahas mengenai kemarahan
pastilah sudah tidak asing lagi karena setiap manusia di pelosok dunia dan dimanapun
dia berada (sedikit lebay hhe) pasti pernah marah. Kemarahan di identikan
sebagai emosional yang negatif dan tidak menyenangkan juga dapat menjadi
sesuatu yang sangat berbahaya. Dikatakan sangat berbahaya dikarenakan seperti
yang kita ketahui dalam berita-berita di TV ada seorang ibu yang tega secara
tragis membunuh anaknya sendiri dikarenakan kemarahannya yang tidak tertahankan,
sehingga kemarahan tersebut dapat menjadi salah satu penyebab orang masuk
penjara. Memang sungguh tragis, masyarakat sekarang pada umumnya kurang
mengerti mengenai keadaan psikologis dirinya terutama psikologi kemarahan. Oleh
karena itu penting sekali untuk setiap individu mengerti terhadap kemarahan dan
berusaha menjadi tidak pemarah.
Menurut
Dr. Paul menjadi seorang yang tidak pemarah tidaklah begitu sukar, kalau orang
itu terlebih dahulu diberi petunjuk bagaimana mencapai keadaan tenang (unangry state). Sebelum membahas lebih
lanjut mengenai petunjuk bagaimana mencapai keadaan tenang (tidak marah), saya
akan sedikit bercerita dari fakta empiris yang ada. Sebut saja dia YK, YK
adalah seorang ibu yang memiliki tiga orang anak, dia memiliki seorang suami
yang suka mabuk. Selama 30 tahun pernikahannya YK selalu saja di hadapkan
dengan situasi yang sulit karena kerap sekali dimaki-maki oleh suaminya jika
suaminya pulang ke rumah dengan keadaan mabuk, dan selama itu pula YK selalu berbalik
marah kepada suaminya. Keluarga YK jadi jatuh miskin karena kekayaan yang
mereka miliki dihabiskan oleh suaminya untuk bermabuk-mabukan. Mengenai permasalahan
tersebut Dr. Paul hanya menyarankan YK dengan sungguh-sungguh agar YK menerima
suaminya sebagai seorang pemabuk dan relaks. YK tidak perlu marah balik ketika
suaminya memaki dia, karena suaminya orang yang sakit dan tidak dapat menolong
dirinya sendiri. Dengan seperti itu YK akan lebih tenang, akan tetapi bukan
berarti YK hanya harus bersikap manis semanis kue tart dan menganggap semua kelakuan
suaminya bukan merupakan persoalan baginya. Itu merupakan suatu permasalahan
yang harus dipecahkan, akan tetapi YK belum mampu untuk itu karena selama tiga
puluh tahun mencoba tidak dapat mengubah kelakuan suaminya.
Mungkin
YK tidak jauh berbeda dengan kita yang selalu marah, benci, kecewa ataupun
sakit hati bahkan frustasi ketika kenyataan yang di dapati tidak sesuai dengan
harapan kita. Ketika perasaan yang selalu di permainkan dalam suatu hubungan
kita pasti akan sakit hati dan marah terhadap dirinya, ketika salah satu
anggota keluarga kita bikin ulah dan menyebabkan hal negatif dalam keluarga,
kita pasti marah dan malah sampai memaki-maki. Hal seperti itu justru malah
dapat menyebabkan neurotik (penyakit jiwa). Kenapa tidak kita hadapi dengan
senyuman saja, menahan amarah yang dirasakan karena tidak ada orang lain yang
dapat membuat kita marah kecuali diri kita sendiri, mengapa harus marah
terhadap seseorang yang sebenarnya dia sendiri sedang kalut, maafkan
keburukannya dan dengan demikian kita akan memperoleh keuntungan besar yaitu
ketenangan. Ketenangan akan membawa kebahagiaan dalam hidup. ^_^
Kalo
kita bisa tenang dan sabar dalam menghadapi frustasi tentu kita akan memperoleh
ketenangan jiwa yang paling besar. Bersikap marah justru tidak dapat
menghilangkan frustasi, malah dapat menimbulkan depresi, dan akibat dari itu
semua yaitu harus dibayar dengan hati yang tersakiti. Adapun akibat yang
merugikan dari kemarahan antara lain :
1.
Kemarahan
hampir selalu memperbesar frustasi
2.
Marah
hanya menghalangi anda memecahkan masalah
3.
Akan
menyebabkan kesehatan mental yang buruk
4.
Kemarahan
dapat membuat kita sakit secara fisik
5.
Kemarahan
menyebabkan timbulnya beberapa prilaku manusia yang paling bejat, seperti
pembunuhan, dll.
So... tersenyumlah kauand.. dan tenanglah dengan
masalah-masalah yang datang menghampiri kita, karena ciri dari manusia hidup
itu memiliki masalah, hanya orang matilah yang tidak memiliki masalah yang
berkaitan dengan dunianya. Masalah bisa mendewasakan kita ko, jika di ibaratkan
hujan itu adalah masalah atau kesulitan dan mentari itu adalah kemudahan, maka
kita butuh keduanya untuk melihat indahnya pelangi. ^_^ senyum itu mudah ko,,
tapi efeknya indah, seperti dalam sebuah buku dikatakan bahwa kebahagiaan yang
cepat sampai pada seseorang yaitu dengan senyuman, jadi mari kita tersenyum
kauand karena senyum kalian ditunggu banyak orang.. J


apakah manusia mempunyai batas kesabaran? bukankah setiap orang mempunyai kpribadian yang berbeda? bukankah sisi psikologis tiap orang berbeda? bagaimana pndapat tie klo meluangkan,mengungkapkan dalam bentuk kmarahan bisa membuat relax dan tersenyum serta berpikir kmbali?? mungkin kemarahan pun menurut diana masih bisa membuat orang menghilangkan depresi, frustasi bahkan dengan kemarahan itupun mungkin bisa berpikir ulang untuk pemecahan masalahnya? :) maaf nanyanya ga nyambung hhehe
BalasHapusmanusia tidak memiliki batas-batas tertentu dimana mereka masih belum bisa menahan aksi gilagilaan orang lain. maksudnya selama kita masih belum bisa menghentikan orang berbuat masalah maka selama itu pula kita harus bersabar.
Hapusiya benar setiap individu memiliki kepribadian dan psikologis yang berbeda akan tetapi dalam tujuan untuk mencapai ketenangan dan kebahagiaan dalam hidup mereka pasti menginginkan seperti itu dan kebahagian hidup itu dapat di capai dengan mental yang sehat. karena pemarah adalah salah satu dari terganggunya kesehata mental seseorang dalam aspek perasaan maka bagaimana bisa dengan marah dapat menyelesaikan masalah klo mnrt saya.